catatan cinta




sebuah catatan kecil;
Tuhan Maha Romantis dan Cinta adalah Perlawanan.

AZHAR NURUN ALA ialah nama penulis yang asing bagiku, pada awalnya.
diperkenalkan oleh media sosial twitter, lewat Penulis asal Pontianak yang pernah mengisi acara kepenulisan bersamanya.
deretan aksara dalam baris- baris timeline nya semakin membius,

dan tanpa pikir panjang aku bertekad menjadi 'pengikut'nya, hingga aku tahu lebih detil dirinya dalam akun media sosial yang lain seperti facebook dan Instagram.
pun, terlebih dahulu aku berkenalan dengan kaos Tuhan Maha Romantis; yang mengawali untuk mengetuk pintu rumahku, lalu menyusul anak-anaknya yang tampak menggemaskan; sehingga sekarang, dua dari mereka bertamu dan tinggal.
TUHAN MAHA ROMANTIS; sebuah novel yang melukiskan Rijal Rafsanjani asal Lampung sebagai tokoh utama, mahasiswa baru di Universitas Indonesia yang ditakdirkan berjumpa dengan perempuan senja yang mengenakan pakaian merah muda dan jilbab senada, yang pertama kali dilihatnya sedang membaca puisi; seorang wanita tak biasa nan mengagumkan bernama Annisa Larasaty, kakak tingkatnya. rasa kagum yang kian tumbuh menjadi cinta juga rindu.
perpisahan penuh tanda tanya, penantian tanpa kepastian, kisah keterpisahan yang mendera, konflik perasaan juga kenyataan.
pilihan, keyakinan, keberanian dan ketekadan ialah pesan utama yang dapat aku tangkap.
ALLAH. selalu bersama langkah kita, yang tercipta ialah bukti sifat Rahman dan Rahim-Nya. Iyah, Tuhan Maha Romantis.
dirangkai dengan bahasa yang mudah dipahami, tak hanya memuat kalimat- kalimat indah berupa sajak, namun dipenuhi motivasi pula.
Tak melulu bercerita tentang cinta, perihal orang tua dan agama juga tergambar disini.
mengalir dan sesekali diwarnai kutipan-kutipan luar biasa penulis ternama seperti;
-          Jalaludin Rumi, “keterpisahan hanyalah tipu daya waktu”.
-          WS. Rendra, Puisi Pertemuan Mahasiswa.
-          Sajak Anis Matta.
-          Pepatah Yunani, Verba Volant, Scripta Manent; apa yang diucap akan lenyap menguap, apa yang ditulisakan mengabadi.
-          “Rasa sakit tak bisa dihindari, tapi menderita adalah pilihan”, Haruki Murakami.
bahkan lebih dari itu, puisi monumental Sapardi Djoko Darmono 'Hujan Bulan Juni' bisa dikatakan menjadi puisi sentral.

beberapa rangkaian kata puitis yang aku suka;
TERTAWAN
ada yang beku: bibir
ada yang tertahan: nafas
ada yang tak berkedip: kelopakmata
ada yang berdegup kencang: jantung
ada yang berdesir deras: darah
ada yang tertawan: hati
ada yang berhenti berputar: bumi
ada yang berhembus pelan: angin
ada yang hening berbisik: rerumputan
--- ada yang jatuh cinta padamu: aku.

Ada juga yang membuatku termotivasi;
Bersyukurlah kita yang masih merasa resah, sebab keresahan adalah bibit perubahan. Ia akan tumbuh bila disiram dengan optimisme dan dipupuk dengan pengorbanan. (hlm. 94)
Dua hal yangmembuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang; buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui. Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang-orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. (bagian 8)

CINTA ADALAH PERLAWANAN; seperti dikatakan Bang Azhar dalam kalimat pembukanya, buku ini ialah sebuah memoar yang menceritakakan perjalanan hati seorang manusia, dari mulai jatuh cinta, menghadapi keterpisahan, hidup dengan setumpuk tanda tanya, hingga perlawanan untuk saling menyempurnakan.
Membaca buku ini, penulis seolah sedang menceritakan segala perjalanan hidupnya kepadaku, mencurahkan segala keluh kesah hatinya secara langsung di hadapanku. :D
Tentu dengan kalimat yang mengalir sederhana, Ia bercerita dengan bahasa yang mudah dipahami; membawaku seolah terjerat dalam cerita yang sama, apalagi tokoh utama dalam buku ini ialah orang pertama tunggal, yaitu AKU.
Tidak berbeda jauh dengan ‘Tuhan Maha Romantis’, buku ini tidak lepas dengan kalimat-kalimat syahdu yang memikat hati, juga banyak prosa dari ‘Ja(t)uh’ yang disertakan di sini.
Kutipan- kutipan favoritku, diantaranya:
Jarak dicipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup. (hlm 39)
Mencari alasan untuk mencintaimu, sama saja membuka kemungkinan alasan untuk tidak mencintaimu. Aku tak mau melakukannya (hlm. 99)

Cinta adalah perlawanan. Atas penindasan oleh rasa takut yang berlebihan. Atas kekhawatiran yang keterlaluan. Atas rindu yang tak boleh dibiarkan beku lama-lama. (Hlm. 145)

Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu--itu saja. Cinta selalu lebih butuh pembuktian daripada alasan. (Hlm 147)

Kalimat-kalimat Jalaludin Rumi pun mengisi baris-baris dalam memoar ini,
Dunia ini ialah anak tangga, dan anak tangga itu ada untuk dipijak lalu kita tinggalkan begitu saja, bukan untuk di huni lama-lama. (Hlm. 139)
Begitu juga dengan Kahlil Gibran, ikut menyumbang pernyataan tak biasa;
Kalau cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu. Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru-
dari ‘Cinta adalah Perlawanan’ kudapati pula berbagai judul buku dengan kalimat luar biasanya.
diperkuat dengan beberapa ayat Al-Qur’an, Hadits dan ungkapan sahabat menujukkan bahwa agama ialah hal terpenting dalam hidup; yakni Harus ada tuntunan dan pedoman yang kuat.

Bukan ketika aku yakin pada diriku, melainkan ketika aku yakin Allah bersamaku. Begitu katamu, bang. Dan aku suka dengan kalimat itu, bahkan sangat setuju.

Dan, pada akhirnya aku jujur mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu, pada sajakmu lebih tepatnya; terutama Mengapa belum juga. haha

Komentar