Mengapa Belum Juga


Mengapa Belum Juga *

PANTAI;
Ia telah mengucap janji setianya pada laut.

Bahwa ia akan selalu menemani, kapanpun.
Dalam keadaan apapun.

Sedahsyat apapun hembusan angin--
atau bahkan badai-- yang mengguncang,
yang mengurai tenang jadi gelombang- gelombang
yang sulit dikenang, ia kan selalu di sana.
Menjadi sahabat paling setia yang selalu mencoba mengerti. 
Dalam pasang maupun surut. 
Dalam jernih maupun keruh. 
Katanya, 'tak peduli kamu seberapa pekat, aku akan tetap dekat'.

PANAS;
Ia mengaku telah jatuh hati pada api.

Mengagumi segala pesonanya,
dan berikrar dalam hati,
ia akan selalu menjadi ruh yang bersemayam dalam raganya. 
Menjadi rasa paling dikenal. 
Karena bersama api, ia merasa arus cintanya itu berdiri kanal. 
Dalam momen destruksi sekalipun, ia selalu bahagia. 
Dan selalu mengucap harap dalam doa, 'semoga semuanya abadi'.

DINGIN;
Ia sudah terlalu yakin salju adalah muara cintanya.

Dan tak tahu lagi harus berkata apa. 
Sampai kapanpun ia tak akan merindukan salju, 
karena mereka selalu bersama. 
Bercengkerama dengan pucuk-pucuk daun, 
bertengger manis di ranting pepohonan, 
jatuh merintik di permukaan jalan,
 atau sekedar menjadi selimut bagi genting-genting rumah. 
Kisah mereka memang indah.

KAMU;
Mengapa kamu belum juga?


* --- favorit! yaps, ialah salah satu prosa dari Ja(t)uh yang turut bagian dalam ‘Cinta adalah Perlawanan’
karya Azhar Nurun Ala

Komentar